Rabu, 23 September 2009

Jordin Sparks: 'BATTLEFIELD', Bukan Karya Gadis 20 Tahun


Jordin Brianna Sparks boleh jadi baru genap berusia 20 pada tahun ini, namun apa jaminan album BATTLEFIELD layak untuk disebut sebagai pop modern craftmanship? Jawabannya adalah nama-nama sederet produser hits maker yang berdiri di belakang jebolan American Idol ini. Plus sedikit latihan vokal ekstra.

Memadukan unsur musik R&B, pop, pop-dance dan pop-rock, membuat album ini warna-warni, kontras dengan debut album biduanita asal Arizona ini pada 2007 silam, yang habis-habisan menggeber track yang susah laku dijual di negara kita, R&B.

BATTLEFIELD yang rilis pada 21 Juli lalu ini memang masih dipercayakan kepada tangan dingin Harvey Mason, Jr. dan Claude Kelly, namun simak juga nama-nama baru yang ikut memikirkan aransemen sampai detail song-writing Sparks.

Toby Gad, orang yang sukses menuliskan hits-hits milik Beyonce, Brandy, Natasha Bedingfield, Fergie, Shakira, dan Donna Summer. Scott Cutler, yang membidani lagu-lagu Miley Cyrus, Madonna, dan Sinead O'Connor. Dan nama terakhir ini adalah nama yang sukses mengorbitkan Katy Perry, Britney Spears, dan disco queen Kylie Minogue, Benny Blanco.

Dengan melibatkan banyak musisi tersebut, tampaknya Jordin Sparks memang berusaha keras agar terlihat matang, jauh dari kesan karbitan dan belajar menulis lagu kepada ahlinya. Dibuka dengan Walking on Snow yang up-beat dan cheerful, nampaknya usahanya ini tidaklah sia-sia.

Dilanjutkan dengan title song Battlefield yang menjadi opening single, usaha keras Sparks kian terasa. Aransemen yang ketat membuatnya harus memaksakan range vokal yang selama ini so-so, dan dominasi Ryan Tedder sangat terasa pada lagu yang berbalut dengan pop dan rock ini, sebetulnya berpotensi menjadi hits jika Sparks mampu mengimbangi dengan olah vokalnya.

Don't Let it Go to Your Head, It Takes More, dan No Parade merupakan tipikal track yang tidak berbeda jauh dari segi musikal, namun lagi-lagi Sparks mengeksplor habis range vokalnya yang terasa sedikit memaksa. S.O.S. (Let the Music Play), Watch You Go, Emergency (911) beberapa track dengan beat mid dance tempo yang belum out of date.

Sementara itu, alunan piano pada intro track Let It Rain, dan Faith bukan merupakan lagu gospel. Simak juga Was I the Only One, sebuah single ballad yang rupanya sengaja ditempatkan pada track 10, sebagai katalis dari rentetan lagu-lagu bertempo sebelas-duabelas, untuk kemudian ditutup dengan salah satu lagu yang ditulisnya, The Cure.

Overall, BATTLEFIELD memang jauh meninggalkan pakem R&B yang ada di selftitled debutnya JORDIN SPARKS. Tapi Sparks rupanya juga gambling untuk mendongkrak kualitas olah vokalnya yang nyata-nyata masih so-so. Sesuai title albumnya, ini merupakan sebuah battle bagi Sparks, mengingat Jive Records (label yang menaunginya) adalah premiere label of R&B. Battle begin!



Sumber : Kapanlagi.com

Senin, 14 September 2009

JET: 'SHAKA ROCK', Menebak-nebak Arah Pasar


Status one-hit wonder nampaknya adalah hal yang paling dihindari oleh Jet. Hingga mereka mencoba menjajal segala kemungkinan untuk selamat dari status tersebut dan dicampur-aduk dalam rilisan teranyar mereka, SHAKA ROCK. Cameron Muncey, Mark Wilson, serta 2 bersaudara Nic dan Chris Cester terlihat masih belum bisa keluar dari bayang-bayang Are You Gonna Be My Girl, meski sudah 6 tahun berselang.
Opening track K.I.A (Killed in Action) jelas menunjukkan itu semua, nyaris tak ada perubahan berarti, apalagi jika menilik komposisi aransemen dan pemilihan sound. rentetan drum dengan tempo naik turun, delay metal zone gitar yang ditumpuk-tumpuk, children chorus, dan yang tak kalah penting, kata demi kata yang tak terangkai secara harfiah antara satu dan yang lain. Terdengar seperti sebuah track yang diputar dalam credit title sebuah film action yang buruk. Forgetable.
Hal berikutnya yang nampak jelas di album yang ada di bawah bendera EMI ini adalah eksplorasi yang cenderung jadi ajang eksperimental setengah-setengah. Coba simak nuansa disco yang gagal menyatu dengan aransemen dalam Beat on Repeat. Jet terdengar seperti ingin jadi Franz Ferdinand, tapi lupa mengharmonisasi synthesizer dan menyetem bass-nya terlalu middle-treble.
Next, mereka malah mencoba menjajal bermain-main funk-metal pada Start The Show. Sayangnya, track ini malah terdengar seperti rekaman era 90-an yang gagal bertransformasi dari analog ke digital recording. Belum berhenti di situ, kuartet asal Melbourne yang telah menjual lebih dari 5 juta kopi album secara global ini melanjutkan eksperimennya di Goodbye Hollywood dan She Holds a Grudge. Dua track tersebut sejatinya ingin menggeber habis rock ballads, sayangnya aransemen yang klise tanpa lead yang jelas antara gitar dan piano, membuatnya justru 'hanya' terdengar sebagai power-pop songs.
Lantas, apakah SHAKA ROCK yang rilis di Australia 25 Agustus ini adalah sebuah album yang gagal? Jawabannya adalah hampir. Setidaknya masih ada La Di Da, sebuah piano-driven track yang solid dan tanpa basa-basi aransemen yang tak perlu. Lalu, ada Let Me Out, sebuah track bernuansa akhir 80-an yang mengingatkan karya-karya di 2 album terdahulu mereka, GET BORN dan SHINE ON.
Jet mungkin memang bukan band yang memiliki reputasi original-sounding. Band ini justru besar lewat kemampuan mereka meramu influence dan style dari aroma rock 'n roll band-band terdahulu. Yang terasa berpengaruh pada konsistensi dan dedikasi mereka sejauh ini. Ironisnya, mereka gagal melanjutkan debut monumental serta follow-upnya dalam sebuah album ke-3 hanya dalam rentang waktu kurang dari satu dekade. Dan mereka pun semakin dekat dengan kategori one-hit wonder.



Sumber : KapanLagi.com

Daughtry: 'LEAVE THIS TOWN', Cita Rasa American Idol


Saat chart Top 40 masa kini didominasi oleh mainstream hip-hop group Black Eyed Peas, pesona pop country ala gadis (benar-benar gadis) manis Taylor Swift, serta dentuman dance pop menyengat gaya Lady Gaga, rasanya musik modern rock harus rela mengalah dengan trend. Namun, jangan lupakan nama Daughtry, band yang dimotori oleh Chris Daughtry itu punya kans untuk melakukan breaktrough. Chris punya warna suara khas, musikalitas mumpuni dan tampang American Idol yang digilai kaum hawa.
LEAVE THIS TOWN yang rilis 14 Juli lalu bisa jadi adalah album penegasan eksistensi Daughtry, bahwa mereka adalah band rock-alternative yang benar-benar tahu bagaimana cara memanipulasi power chords. Simak saja track nomor tiga dan nomor lima, Every Time You Turn Around dan What I Meant To Say. Meski masih terdengar mirip Hinder, namun fans Daughtry rasanya tak akan ambil pusing.
Sebagai seorang native Amerika, Chris memang paham benar bagaimana memainkan southern rock ballad yang kental terasa di Life After You, di mana ia menulis lagu ini bersama frontman Nickelback Chad Kroeger. Sementara dalam lead single No Surprise, Chad juga sukses menjadi co-writer yang memberikan sentuhan catchy.
Berikutnya di Call My Name dan Learn A Lesson, dengan hook dan chorus yang benar-benar sing-a-long, Anda akan menyadari mengapa mereka bisa masuk ke chart Top 40. Sama persis rumusnya dengan single You Don't Belong yang jadi opening track. Meski influence Chevelle sayup-sayup terasa, namun ini adalah satu-satunya lagu di mana Chris menuliskannya sendiri. Sekaligus menegaskan bahwa ia tak lagi melirik musik pop untuk dijadikan acuannya dalam berkarya.
Belum lagi faktor dukungan dari label Radio Corporation of America(RCA) Records yang merupakan anak perusahaan Sony Music Entertainment, yang bercokol di posisi ke-3 dari market share penjualan album di se-antero bumi, dan tentunya promotional budget guarantee bagi Daughtry.
Untuk warna aransemen memang tak beda jauh dengan debut albumnya pada debut album DAUGHTRY pada 2006 silam. Deretan power ballads yang dinyanyikan Chris dengan gaya yang nyaris sama, bisa jadi merupakan cara mereka untuk membentuk imej musik di telinga publik. Walaupun jujur harus diakui, jika Anda pernah mendengar lagu-lagu Daughtry sebelumnya, maka tak akan ada sesuatu yang baru. Every single's its the same old brand new tunes.
Overall, full album ke-2 Chris Daughtry (vocal), Josh Paul (bass), Joey Barnes (drum), Brian Craddock dan Josh Steely (gitar) ini memang tak jelek. Setidaknya bukan popularitas sang vokalis yang bisa dijadikan alasan untuk membeli album berisi 12 track ini. Hanya saja, Chris Daughtry memang terlalu terekspos, seperti sandwich yang kejunya terlalu banyak.



Sumber : KapanLagi.com

Selasa, 08 September 2009

The Cranberries Siap-Siap Tur Lagi


Grup band rock Irlandia The Cranberries menyudahi masa vakum.Setelah 7 tahun tidak beraktivitas,mereka akan mengadakan tur Amerika Utara dan Eropa,mereka akn membawakan lagu-lagu baru dan sejumlah hit lama,seperti Zombie dan Linger.
Januari lalu sang vokalis Dolores O’Riordan tampil bersama beberapa personel Cranberries di Dublin.Itu adalah aksi pertama mereka sejak disebut-sebut bubar pada 2003.Semua anggota band kemudian bertemu lagi di rumah baru O’Riordan di Kanada.Mereka menghadiri acara pembaptisan putra O’Riordan,Taylor.
“Kami tidak pernah berpisah secara resmi.Kami hanya istirahat.Dan,ketika berada di satu ruangan,kemudian kami bermain musik bersama lagi,kami menyadari betapa kami saling merindukan satu sama lain,” tulis mereka seperti dikutip dari situs resmi band.
Cranberries merupakan salah satu band Irlandia paling sukses pada awal 1990-an.Tur akan dimulai dari Toronto pada pertengahan November dan dilanjutkan di Eropa mulai awal 2010.”Kami sempat saling kehilangan kontak,”kata O’Rioardan kepada harian The Irish Times.
O’Riordan menambahkan bahwa dirinya merasa senang sekali dengan rencana membuat album baru Cranberries.”Kami selalu menjadi teman.Tapi,memang saya tak bisa bergaul dengan mereka di bawah panggung.Apa yang mau saya bicarakan dengan para lelaki itu?Masalah menyusui?”ucapnya.
Sumber : Radar Jogja,1 September 2009